Selasa, 30 Desember 2014

Makanan Khas Tradisional Bangka Belitung

Karena Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dominan terdiri dari wilayah lautan, maka ciri khas utama makanan masyarakatnya berhubungan dengan hasil - hasil laut atau hasil olahan hasil laut, disamping hasil perkebunan yang ada. Jenis makanan tersebut yaitu; aneka makanan hasil laut yang diawetkan seperti Cumi kering, Ikan kering, Cacing laut atau Wak - wak kering, Udang kering, Siput Gung -gung, Teripang, Sirip Hiu, Rusip, Kecalok, Pekasem. Kemudian aneka makanan hasil olahan hasil laut seperti Keretek, Kempelang, Kericu, Kerupuk, Sambel Lingkung, Terasi, Otak - otak, Empek - empek, Lakso, Bergo dan Pantiau. Disamping makanan khas bercirikan hasil laut terdapat pula aneka jenis peganan tradisional seperti Martabak Bangka atau Hok Lo Pan, Rintak sagu, Gandus, Kue Rangai, Kue Talam, Kue Bugis, Kue Jongkong dan Dodol khas yang disebut Lempok Cempedak atau Durian. Kemudian dikenal pula hasil alam berupa Madu Pahit dan Madu Manis asli dari Lebah hutan Pulau Bangka dengan rasa dan khasiat tersendiri, sangat baik untuk kesehatan.
Masakan khas tradisional yang terkenal adalah Lempah Kuning. Lempah ini merupakan makanan yang khas dan menjadi makanan utama dalam keluarga dan masyarakat, juga menjadi makanan dalam upacara adat dan keagamaan. Dalam tradisi masyarakat Pangkalpinang yang disebut Sepintu Sedulang, segala sesuatu dikerjakan secara bersama -sama, biasanya sebelum melakukan suatu pekerjaan atau hajatan besar atau setelah bekerja bersama, masakan Lempah Kuning adalah lauk pauk utama yang dimasak bersama dan dimakan bersama - sama. Disamping itu disajikan juga Lempah Darat atau Lempah Bumbu Tiga (Terasi atau Belacan, Cabe Rawit dan Garam sebagai bumbu) dijadikan sebagai lauk pauk pelengkap. Dari bumbu yang digunakan dengan komposisi tiga bahan di atas menggambarkan bahwa masyarakat Pangkalpinang Bangka Belitung adalah masyarakat yang praktis serta tidak rumit, sangat menghargai waktu, hemat dan ekonomis. Untuk makanan pelengkap biasanya pada siang hari di hidangkan Kue Cacak untuk menghilangkan dahaga atau haus sebagai makanan ringan pendamping kopi dan teh.

Senin, 29 Desember 2014

Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung

Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung - Struktur bangunan rumah adat Bangka Belitung berbentuk rumah panggung dengan atap rumah berbentuk limas. Masyarakat Bangka Belitung biasa menyebutnya dengan Rumah Panggung Limas
Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung - Struktur bangunan rumah adat Bangka Belitung berbentuk rumah panggung dengan atap rumah berbentuk limas. Masyarakat Bangka Belitung biasa menyebutnya dengan Rumah Panggung Limas.

Rumah adat panggung limas sangat kental sekali dengan budaya melayu yang merupakan ciri khas dari rumah adat ini. Komponen penyusun dari bangunan ini yang mendominasi terbuat dari kayu yang melambangkan kehidupan yang penuh dengan kesederhanaan. Arsitektur Rumah adat Bangka Belitung dikenal memiliki tiga (3) type yaitu Arsitektur Melayu Awal, Arsitektur Melayu Bubung Panjang dan Arsitektur Melayu Bubung Limas.

Arsitektur Melayu Bubung Limas bagian atap rumah berbentuk limas karena ada pengaruh budaya dari palembang. Pada umumnya rumah bubung limas dibangun oleh masyarakat Tionghoa.
Struktur bangunan Arsitektur Melayu Awal terbuat dari bahan - bahan yang didapat dari alam, yaitu kayu, rotan, bambu, akar pohon, daun - daun, atau alang - alang dan komponen lainnya. Rumah adat ini, bangunan pondasi atau tiang terbuat dari yang memiliki jumlah tiang sebanyak 9 tiang. Dengan tiang utama terletak di tengan - tengah bangunan.

Untuk Arsitektur Melayu Bubung Panjang terdapat penambahan - penambahan pada sisi bangunan, seperti atap yang diperpanjang dan lainnya. Sedangkan Arsitektur Melayu Bubung Limas bagian atap rumah berbentuk limas karena ada pengaruh budaya dari palembang. Pada umumnya rumah bubung limas dibangun oleh masyarakat Tionghoa.
 
 
sumber: www.zonabangkabelitung.com

Minggu, 28 Desember 2014

Tari Tradisional Bangka Belitung


 Tari Campak merupakan tarian dari daerah Bangka-Belitung yang menggambarkan keceriaan bujang dan dayang di Kepulauan Bangka Belitung. Tarian ini biasanya dibawakan setelah panen padi atau sepulang dari ume (kebun). Tarian ini berupa pantun bersambut yang biasanya didendangkan oleh sepasang penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, dengan irama yang khas. Mereka menari diiringi tabuhan gendang, biola dan gong yang ditabuh secara berkala. Para penari menggunakan selembar saputangan yang dikibas-kibaskan mengiringi lenggok gemulai sang penari. Pada saat tarian ini berlangsung biasanya penonton bebas memberi sawer kepada “nduk campak” sebutan bagi penari perempuan pada tarian ini. Sedangkan penari laki-laki disebut “penandak”.



Menurut cerita, tari Campak aslinya berasal dari Pulau Lingga di Riau. Tarian ini kemudian dibawa ke Bangka Belitung sekitar abad ke 18 oleh orang yang bernama Nek Campak. Mungkin karena yang mengembangkan tarian ini bernama Nek Campak, tarian ini kemudian diberi nama Tari Campak.
Perkembangan mengenai Tari Campak ini pernah mengalami akulturasi dengan budaya Eropa, khususnya bangsa Portugis. Karena di masa itu Kepulauan Bangka Belitung berada dibawah jajahan Portugis. Pengaruh ini dapat dilihat dari salah satu alat musik pengiringnya yang berasal dari Eropa yaitu akordion.
Budaya Eropa membawa pengaruh terhadap Tarian Campak ini dan dapat dilihat dari alat musik pengiringnya yaitu akordion. Pengaruh ini tampak juga pada busana modern Eropa yang dipakai penari perempuannya, seperti gaun panjang, topi, dan sepatu berhak tinggi. Sedangkan penari laki-laki mengenakan busana tradisional yakni kemeja, celana panjang, peci, dan selendang.
Walaupun mendapat pengaruh dari budaya Eropa, tari campak Bangka Belitung tetap merupakan tari tradisional karena memiliki nilai-nilai budaya lokal yang dipertahankan. Tari campak biasanya dibawakan untuk merayakan waktu musim panen padi. Selain itu tari yang penuh keceriaan sering dibawakan para muda mudi sepulangnya dari ume atau kebun. Dalam perkembangannya tari campak juga dipertunjukan dalam pesta-pesta adat seperti penyambutan tamu dan pernikahan.
Pagelaran tari campak selalu meriah dan menarik hati. Para penari tidak hanya menari berpasang-pasangan mengikuti irama musik, mereka juga melantunkan pantun. Mereka saling berbalas pantun sampai akhirnya penari laki-laki merasa kalah. Uniknya, setelah kalah membalas pantun penari laki-laki harus memberikan uang kepada penari perempuan. Kemeriahan gerak tari dan lantunan pantun yang dibawakan oleh para penari tari campak diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong dan gendang serta alat musik modern Eropa yaitu akordion dan biola.

sumber:http:www.aliansiindonesia.com

Jumat, 26 Desember 2014

Sejarah Bangka


Wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti-ganti menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris sebagai "Duke of Island". 20 Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London 13 Agustus 1824, terjadi peralihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K. Hcyes (Belanda) di Muntok pada 10 Desember 1816. Kekuasaan Belanda mendapat perlawanan Depati Barin dan putranya Depati Amir yang di kenal sebagai perang Depati Amir (1849-1851). Kekalahan perang Depati Amir menyebabkanDepati Amir diasingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT. Atas dasar stbl. 565, tanggal 2 Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 di bentuk Resindetil Bangka Belitung Onderhoregenheden yang dipimpin seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang di pimpin oleh Ast. Residen. Di Pulau Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang akhirnya menjadi 5 Karesidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1 Karesidenan. Di zaman Jepang, Karesidenan Bangka Belitung di perintah oleh pemerintahan Militer Jepang yang disebut Bangka Beliton Ginseibu. Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda di bentuk Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember 1946(stbl.1946 No.38) yang selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka yang diketuai oleh Musarif Datuk Bandaharo Leo yang dilantik Belanda pada 11 November 1947. Dewan Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi. Pada 23 Januari 1948 (stb1.1948 No.123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI) yang merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku undang-undang Nomor 22 Tahun 1948. Pada tanggal 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. lsa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan Bangka Belitung dibubarkan. Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R. Soemardja yang berkedudukan di Pangkalpinang.Berdasarkan UUDS 1950 dan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16 November 1956 Karesidenan Bangka Belitung berada di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk juga kota kecil Pangkalpinang. Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957 Pangkalpinang menjadi Kota Praja. Pada tanggal 13 Mei 1971 Presiden Soeharto meresmikan Sungai Liat sebagai ibukota Kabupaten Bangka. Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung menjadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dengan Pejabat Gubernur pertama Drs Amur Muhasyim SH dsn Ketua DPRD pertama H. Emron Pangkapi (bang Emran). Selanjutnya sejak tanggal 27 Januari 2003 Provinsi Kepualauan Bangka Belitung mengalami pemekaran wilayah dengan menambah 4 Kabupaten baru yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung Timur dan Bangka Selatan.

wisata pantai tanjung kelayang, Bangka Belitung

Pantai Tanjung Kelayang adalah salah satu pantai yang ada di kecamatan Sijuk, Belitung. Tapi jangan tertukar dengan pantai yang ada di pulau Bangka dengan nama yang sama pula. Pantai Tanjung Kelayang di Belitung bisa dicapai dari bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan dalam waktu sekitar 45 menit. Seperti pantai-pantai lain yang terdapat di pulau Bangka dan Belitung, pantai Tanjung Kelayang juga dipenuhi dengan gugusan batuan besar. Namun ada satu gugusan batuan yang menarik dan hanya ada di pantai ini, yaitu batu yang berbentuk seperti kepala burung. Gugusan batuan ini membentuk pulau mini. Karena itulah masyarakat disini juga menyebut gugusan batuan tersebut dengan pulau Burung.
Dari kejauhan nampak sebuah mercusuar berwarna putih menjulang tinggi. Ini adalah mercusuar yang berdiri diatas pulau Lengkuas yang berada tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang. Anda bisa menuju pulau Lengkuas dengan menyewa kapal dari pantai Tanjung Kelayang. Jika pergi ke pantai Tanjung Tinggi yang berada tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, maka anda akan mendapati terumbu karang yang tersebar di sekitar pantai.
Sayangnya di pantai Tanjung Kelayang tidak ada terumbu karang yang berada dekat bibir pantai. Anda harus menaiki kapal setidaknya sejauh 800 meter dari pantai Tanjung Kelayang untuk menemui terumbu karang terdekat. Lokasi terumbu karang ini berada di dekat pulau Lengkuas. Ketika anda sudah berada di pantai Tanjung Kelayang, saya sarankan sekalian saja mampir juga ke pulau Lengkuas.
Pulau ini sangat indah dengan daya tarik utamanya berupa menara mercusuar. Coba saja naik ke atas dan saksikan indahnya panorama lautan dari puncak Mercusuar. Belum lagi pesona terumbu karang yang ada di dekat perairan pulau lengkuas yang dangkal. Cocok untuk kegiatan snorkling.
Garis Pantai Tanjung Kelayang
Kapal Nelayan Bersandar di Pantai Tanjung Kelayang
Bila menjelang sore hari, pantai ini akan dipenuhi oleh kapal nelayan yang baru kembali dari laut. Ada banyak pasak kayu yang berdiri tidak jauh dari bibir pantai Tanjung Kelayang. Pasak inilah yang digunakan oleh para nelayan untuk menambatkan kapalnya tidak jauh dari bibir pantai Tanjung Kelayang.
Di salah satu bagian pantai, terdapat juga jembatan kayu kecil yang juga digunakan oleh nelayan lokal untuk menyandarkan kapalnya. Anda bisa meniti jembatan ini untuk melihat air pantai dari atas jembatan. Biasanya kalau lagi tidak melaut, nelayan pemilik kapal akan menyewakan kapalnya untuk mengantarkan para turis ke pulau Lengkuas yang berada tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang.
Di salah satu sudut pantai Tanjung Kelayang terdapat bangunan dua lantai yang ditinggalkan pengelolanya. Sepertinya bangunan ini tadinya akan dibuat sebagai tempat penginapan. Itu bisa terlihat dari kolam renang yang terdapat didepan bangunan. Seandainya pembangunan gedung berlantai dua diteruskan, mungkin akan menjadi satu-satunya bangunan megah yang berdiri tepat di tepi pantai Tanjung Kelayang. Jika memang anda ingin menginap di tepi pantai, sebenarnya ada cottages yang berdiri di pantai Tanjung Kelayang. Namun sebaiknya anda konfirmasi kesediaan cottages terlebih dahulu jika memang ingin pergi dan menginap disini, karena jumlahnya tidak terlalu banyak.
Selain itu cottages ini juga relatif sederhana. Saya sarankan lebih baik menginap di tempat lain, misalnya di Lor In yang ada di pantai Tanjung Tinggi, 2 km dari pantai tanjung Kelayang. Lor In menawarkan pilihan cottages yang bagus dan nyaman untuk menginap selama liburan di Belitung.
Setelah asyik bermain-main di pantai, mungkin anda merasa lapar dan ingin makan sesuatu.
Disekitar lokasi pantai Tanjung Kelayang terdapat pondok yang menyediakan makanan seperti berbagai macam sup dengan bahan baku ikan kerisi, ikan bulat, ikan jebong, atau ikan ilak. Selain itu ada makanan lain yang umum ditemukan, seperti nasi goreng, capcay, dan balado udang. Berbagai macam minuman juga tersedia di pondok tersebut.
Gugusan Batuan Yang Berbentuk Mirip Kepala Burung
Karena keindahan terumbu karangnya, pantai Tanjung Kelayang dijadikan salah satu lokasi persinggahan dalam acara Sail Wakatobi Belitung pada tahun 2011 lalu. Pantai Tanjung Kelayang ini juga digunakan sebagai salah satu tempat penutupan Sail Wakatobi Belitung yang dimeriahkan oleh tarian tradisional dan pesta kembang api. Acara penutupan ini dilaksanakan tepat disamping bibir pantai.
Diawali dengan penampilan anak-anak dengan pakaian berwarna-warni. Anak-anak ini menampilkan tarian “Belitung Bergema” dibawah teriknya sinar matahari. Tarian ini adalah kreasi dari seniman lokal yang menceritakan bagaimana kehidpuan anak pantai dan para nelayan Belitung yang mencari nafkah dengan cara menangkap ikan.
Salah satu kegiatan yang diadakan pada selama sail Wakatobi Belitung adalah percobaan pemecahan rekor bermain catur dalam air dengan pemain terbanyak yang akan dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Penyelam yang ikut serta dalam percobaan pemecahan rekor ini selain dari masyarakat sipil juga melibatkan penyelam dari angkatan laut Indonesia.
Pada saat acara Sail Wakatobi Belitung berlangsung ada puluhan kapal layar kecil yang menambatkan diri didekat pantai Tanjung Kelayang. Pada saat itu anda bisa menyaksikan barisan tiang dengan layar yang sudah tergulung menyembul ke atas kapal-kapal tersebut. Diantara kapal layar yang bersandar ada juga yang bertipe catamaran dengan dua lambung. Pantai Tanjung Kelayan adalah tempat persinggahan terakhir bagi kapal-kapal yang mengikut acara sail Wakatobi Belitung, sebelum kembali ke negara masing-masing.

Rabu, 24 Desember 2014

My Profile

My Profile

Nama : Ari Kurniasih
TTL : Belinyu, 26 Juni 1995
Kota Asal : Belinyu, Bangka Belitung
Kota Sekarang : Yogyakarta
Zodiak : cancer
Hobi : Baca Novel
Moto : hari esok harus lebih baik dari hari ini...