Minggu, 28 Desember 2014

Tari Tradisional Bangka Belitung


 Tari Campak merupakan tarian dari daerah Bangka-Belitung yang menggambarkan keceriaan bujang dan dayang di Kepulauan Bangka Belitung. Tarian ini biasanya dibawakan setelah panen padi atau sepulang dari ume (kebun). Tarian ini berupa pantun bersambut yang biasanya didendangkan oleh sepasang penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, dengan irama yang khas. Mereka menari diiringi tabuhan gendang, biola dan gong yang ditabuh secara berkala. Para penari menggunakan selembar saputangan yang dikibas-kibaskan mengiringi lenggok gemulai sang penari. Pada saat tarian ini berlangsung biasanya penonton bebas memberi sawer kepada “nduk campak” sebutan bagi penari perempuan pada tarian ini. Sedangkan penari laki-laki disebut “penandak”.



Menurut cerita, tari Campak aslinya berasal dari Pulau Lingga di Riau. Tarian ini kemudian dibawa ke Bangka Belitung sekitar abad ke 18 oleh orang yang bernama Nek Campak. Mungkin karena yang mengembangkan tarian ini bernama Nek Campak, tarian ini kemudian diberi nama Tari Campak.
Perkembangan mengenai Tari Campak ini pernah mengalami akulturasi dengan budaya Eropa, khususnya bangsa Portugis. Karena di masa itu Kepulauan Bangka Belitung berada dibawah jajahan Portugis. Pengaruh ini dapat dilihat dari salah satu alat musik pengiringnya yang berasal dari Eropa yaitu akordion.
Budaya Eropa membawa pengaruh terhadap Tarian Campak ini dan dapat dilihat dari alat musik pengiringnya yaitu akordion. Pengaruh ini tampak juga pada busana modern Eropa yang dipakai penari perempuannya, seperti gaun panjang, topi, dan sepatu berhak tinggi. Sedangkan penari laki-laki mengenakan busana tradisional yakni kemeja, celana panjang, peci, dan selendang.
Walaupun mendapat pengaruh dari budaya Eropa, tari campak Bangka Belitung tetap merupakan tari tradisional karena memiliki nilai-nilai budaya lokal yang dipertahankan. Tari campak biasanya dibawakan untuk merayakan waktu musim panen padi. Selain itu tari yang penuh keceriaan sering dibawakan para muda mudi sepulangnya dari ume atau kebun. Dalam perkembangannya tari campak juga dipertunjukan dalam pesta-pesta adat seperti penyambutan tamu dan pernikahan.
Pagelaran tari campak selalu meriah dan menarik hati. Para penari tidak hanya menari berpasang-pasangan mengikuti irama musik, mereka juga melantunkan pantun. Mereka saling berbalas pantun sampai akhirnya penari laki-laki merasa kalah. Uniknya, setelah kalah membalas pantun penari laki-laki harus memberikan uang kepada penari perempuan. Kemeriahan gerak tari dan lantunan pantun yang dibawakan oleh para penari tari campak diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong dan gendang serta alat musik modern Eropa yaitu akordion dan biola.

sumber:http:www.aliansiindonesia.com

2 komentar:

  1. Sayangnya gak bisa narii sihh,, coba bisaa kan asyyikk

    BalasHapus
  2. wah begitu banyak tarian yang kita miliki dan indah-indah pula,,,, aku bangga akan itu,,,,

    BalasHapus